5 Etika Sumatra Unik yg Masih Beratahan Hingga sampai Saat ini

Kekayaan budaya Indonesia benar-benar beraneka, antara lain ada tarian, musik, bahasa, etika istiadat serta masih banyak. Coba kadangkala arenawin.net cermati serta kumpulkan bermacam budaya yg berada pada tempat tinggalmu. Kamu akan dibikin terpesona oleh unik serta beragamnya budaya Indonesia. Lalu, budaya-budaya apa yg berada pada Indonesia yg telah kamu kenali? Yuk, baca beritanya dibawah ini!

1. Etika Mangongkal Holi – Sumatera Utara

Mangongkal Holi satu diantara etika Batak yg masih dilestarikan oleh sejumlah etnis arenawin hingga sampai waktu ini.

“Mangongkal” dalam bahasa Indonesia punya arti menggali, dan “Holi” punya arti tulang, sampai mangongkal holi merupakan menggali tulang – dalam soal ini menggali kuburan manusia untuk menempatkan tulang orang yg telah lama wafat ke kuburan baru.

Menurut keyakinan, orang yg sudah wafat, karena itu tidaklah “tiada” akan tetapi mereka ke arah ke proses yg prima di alam keabadian serta kumpul dengan arwah satu keluarga. Sampai adanya keyakinan yg sudah turun temurun, karena itu etnis Batak juga kerjakan acara upacara Mangongkal Holi. Sering, Mangongkal Holi, tidak hanya sekeda menempatkan ke kuburan yg baru, tapi bikin “Tugu Marga”.

Baca Juga :

Sekali Seumur Hidup! 7 Pantai Pink di Dunia Ini Harus Didatangi

Ini 5 Tempat Wisata di Gorontalo yg Indah Memesona

Ingin ke Semarang? Jangan Lupa Berkunjung di 10 Wisata Bandungan Ini ya!

2. Etika Upacara Belian

Upacara Belian ini merupakan upacara untuk tolak bala, yg biasanya diperuntukkan untuk 4 perihal, ialah sebagai obat orang sakit, menopang orang hamil yg diindikasikan sukar melahirkan, sebagai obat kemantan serta menampik wabah penyakit.

Suku yg masih melakukan upacara etika ini merupakan suku Petalangan, yang disebut suku paling besar di Riau. Upacara etika ini umumnya diadakan malam hari, di dalam rumah orang yg sakit, atau di dalam rumah etika yg besar sampai banyak masyarakat suku yg datang.

3. Etika Nganggung – Bangka Belitung

Etika Nganggung, merupakan etika warga Kabupaten Bangka. Ialah tiap keluarga bawa 1 dulang dengan isi bermacam penganan yg tertutup tudung saji. Lantaran tiap keluarga bawa dulang, karena itu etika Nganggung pula dimaksud dengan etika Sepintu Sedulang. Nama Sepintu Sedulang setelah itu jadi nama lain dari kabupaten Bangka, ialah bumi Sepintu Sedulang.

Sepintu Sedulang diadakan saat perayaan hari – hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Miraj, menyongsong tamu penting, atau kalau ada masyarakat yg wafat. Masyarakat masyrakat akan bawa dulang berisi penganan ke masjid untuk memperingati wafatnya keluarga mereka saat 3 hari, 7 hari, 25 hari, 40 hari, serta 100 hari. Sebelum isi dulang disantap akan dibacakan doa oleh tokoh agama ditempat atau imam masjid kampung. Etika ini adalah cerminan dari kegotongroyongan warga ditempat.

4. Etika Ngobeng – Palembang

Ngobeng adalah etika makan bersama dengan warisan budaya leluhur arenawin . Etika itu, sekarang mulai jarang-jarang ditemui lantaran warga lebih menentukan melayani tamu dengan prasmanan. Walaupun sebenarnya, “ngobeng” benar-benar dalam maknanya, ialah untuk menjunjung tamu serta memperkuat berkunjung. Sewaktu masuk rumah, tamu langsung disediakan air untuk basuh tangan selanjutnya ke arah santapan.

Satu santapan dengan menu beraneka, akan disantantap oleh delapan orang. Umumnya, nasi minyak merupakan makanan pokok yg diperlengkapi dengan opor ayam, gulai kambing serta daging sapi masak malbi. Kadang waktu ditambah lagi acar serta tumisan buncis yg dikasih santan dan sambal nanas. Makanan penutupnya merupakan srikaya, yg dibikin dari gabungan telur, santan serta gula yg dikasih pewarna dari perasan daun suji.

5. Tabuik – Sumatera Barat

Upacara Tabot atau Tabuik merupakan etika warga di Bengkulu serta di pantai barat Sumatera Barat, yg diadakan dengan turun mengalami penurunan. Upacara ini diadakan dalam hari Asyura yg jatuh pada tanggal 10 Muharram dalam kalender Islam untuk memperingati kematian cucu Nabi Muhammad, Husein.

Tabuik datang dari bahasa Arab Melayu yg bermakna tabut atau peti atau biasa dimaksud dengan keranda yg dihiasi bunga-bunga serta kain warna-warni yg diarak keliling kampung serta paling akhir dilarung di laut. Etika ini punya sifat kolosal, lantaran sertakan banyak orang-orang, dimulai dengan step persiapan, penerapan s/d step akhir pucuk acara.

Itu barusan tradisi-tradisi yg berada pada Nusantara terkasih. Kalaupun arenawin rasakan kalau ini merupakan warisan budaya baik dan mulia nenek moyang, karena itu kamu mesti berperan dalam pelestariannya. Nah etika unik Sumatra ini lah yg bikin Indonesia kaya budaya serta etika. Bangga kan jadi orang Indonesia?

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: